Sejarah Masuknya Agama Kristen Di desa tegizita
Misi yang dibawa oleh misionaris Prancis tersebut berlangsung hingga tahun 1835. Setelah itu, Jean Baptiste Boucho (1845), Vikaris Apostolik dari Peninsula, Malaysia, sangat bersemangat untuk menyebarkan Injil ke Pulau Nias. Semangat itu muncul karena menurut Boucho, orang-orang Nias adalah orang yang baik, sederhana, dan setia pada iman mereka.
Meskipun demikian, Boucho tidak mendapat izin dari College di Penang. Akhirnya tugas misi diserahkan kepada Jean Pierre Vallon dan Jean Laurent Berard. Pada tanggal 14 Desember 1831, Vallon dan Berard berangkat dari Penang dan tiba di Nias pada bulan Maret 1832. Tahun ini merupakan penanda misi Gereja Katolik pertama di Pulau Nias. Namun, misi mulai bergerak secara massif/utuh pada tahun 1939. Banyak orang Nias yang belum beragama Kristen meminta supaya seorang Pastor datang ke Nias. Sejak saat itu, umat Katolik bertumbuh dengan pesat. Adapun beberapa orang dilatih di Gunungsitoli, sebagai bekal untuk mengajar orang-orang di desa.
Sejak tahun 1936, sinode Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) dibentuk. Hingga tahun 1940 dipimpin oleh misionaris Jerman.[2]Perkembangan pesat umat sejak 1938-1942, 1945-1949 juga menimbulkan perpecahan dalam gereja. Alkitab dalam bahasa Nias diterbitkan pada tahun 1913 dengan memakai dialek bahasa Nias Utara sebagai acuan. Bukan hanya itu, Bahasa Nias Utara juga dijadikan acuan dalam bahasa-bahasa Gerejawi. Kini, masyarakat Nias menganut agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Islam, Budha, Hindu, Konghucu, dan aliran kepercayaan.[3]
Referensi
- M. Hammerle, Johanes. 2015. Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Nias. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias.
- Heuken, Adolf J., P. Krissantono, Bernard Mardiatmadja, Tonny S. Tjokrowardojo, Maria Meilany, Emil J. Endy Rukmo, Pius S. Nasar, Stefan Kusdarwanto. 1971. Sedjarah Geredja Katolik Di Indonesia.Jakarta: Cipta Loka Cakara.
- Gea, Silvester Detianus dan H. Lisman B. S. Zebua. 2018. Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias. Labuan Bajo: Yayasan Komodo Indonesia.
- [1] Lihat buku ‘Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias’ hlm. 5.
Komentar
Posting Komentar