Sejarah Al Quran
Al-Qur’an di turunkan melalui perantara malaikat Jibril yang menyampaikan langsung kepada Rasulullah SAW. Proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap atau mutawatir selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Para sebagian ulama membagi periode turunnya Al-Qur’an dalam dua periode. Periode Mekkah sebelum hijrah, surat-surat yang turun pada waktu ini disebut (ayat-ayat makkiyyah) yang berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dengan jumlah 86 surat. Kemudian periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah hingga sesudah hijrah. Surat-surat yang turun pada waktu ini disebut (ayat-ayat madaniyyah), berlangsung selama 10 tahun dengan jumlah 28 surat.
Pada permulaan turunnya wahyu yang pertama adalah surat Al-Alaq ayat 1-5bertempat di Gua Hira saat Nabi Muhammad SAW sedang menyendiri bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhandan sebelum Nabi hijrah sekitar tahun 610 M pada tanggal 6 Agustus.
Saat itu Nabi Muhammad SAW belum diangkat menjadi Rasul, hanya berperan sebagai Nabi biasa yang belum ditugaskan untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya. Sampai pada turunnya wahyu yang kedua barulah Nabi Muhammad diperintahkan untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah yang artinya:
“Wahai yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan” (QS. Al-Muddassir (74):1-2)
Adapun Wahyu terakhir yaitu surat Al-Maidah ayat 3 yang di turunkan di Jabal Rahmah pada saat Haji Wa’da bertepatan pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 H atau 27 Oktober 632 M.
Awal Mula Pembukuan Al-Qur’an
Pada Masa Rasulullah SAW
Dengan keterbatasannya karena tidak dapat membaca dan menulis. Ketika setiap Rasulullah SAW mendapatkan wahyu, beliau langsung menyampaikannya kepada para Sahabat. Adapun Sahabat yang ditunjuk untuk menuliskan Al-Qur’an yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Penulisan Al-Qur’an tercatat masih sederhana dan berserakan pada beberapa media seperti pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat Rasulullah SAW langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.
Penulisan Al-Qur’an pada saat itu belum terkumpul menjadi satu mushaf, karena tidak ada faktor pendorong dalam membukukan Al-Qur’an mengingat Rasulullah SAW masih hidup dan para Sahabat juga menghafal. Alasan lain, karena Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur atau bertahap.
Pada Masa Khalifah Abu Bakar
Pada masa ini banyak para sahabat Hafidz mati Syahid karena ikut berperang. Sehingga Utsman bin Affanmulai risau dan memikirkan masa depan akan Al-Qur’an. Kemudian sedikit berdialog dengan Khalifah Abu Bakar untuk pengumpulan kembali Al-Qur’an. Akhirnya beliau meminta Zaid ibn Tsabit(salah satu mantan juru tulis Nabi Muhammad SAW). Untuk mengumpulkan kembali dan menuliskan Al-Qur’an agar menjadi lembaran yang dapat disatukan.
Setelah Al-Qur’an sudah menjadi satu mushaf yang tersusun secara rapih, kemudian mushaf tersebut disimpan oleh Abu Bakar hingga beliau wafat. Utsman bin Affan yang menjadi penerus pemegang mushaf hingga beliau wafat, sehingga diteruskan oleh anaknya yang bernama Hafshah binti Utsman bin Affan yang juga salah satu istri Nabi Muhammad SAW.
Pada Masa Utsman bin Affan
Agama Islam semakin menyebar luas, sehingga menyebabkan perbedaan pengucapan beberapa kata dalam Al-Qur’an. Maka Utsman bin Affan berinisiasi membuat standar Al-Qur’an atau biasa kita menyebutnya dengan Mushaf Utsmani. Dalam hal ini dibentuklah satu panitia oleh Utsman bin Affan, terdiri dari Zaid bin Tsabit (ketua), Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdur rahman bin Harits bin Hissyam. Tujuannya untuk membukukan Al-Qur’an, yakni dengan menyalin dari lembaran-lembaran yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an itu menjadi sebuah buku. Dan menyeragamkan penulisan serta pembacaannya yang sesuai dengan dialek suku quraisy, sebab konon alqur’an diturunkan menurut dialek suku tersebut.
Karena mushaf ini dianggap sah, hingga pada akhirnya pada masa Utsman bin Affan inilah mushaf mulai didistribusikanke beberapa negara. Seperti, Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan Madinah sampai ke negara Islam lainnya.
Dari sejarah tersebut kita menjadi lebih mengetahui asal-usul dan proses terbentuknya Al-Qur’an, mengingat yang isinya merupakan sebuah petunjuk kepada manusia.
Sahabat, penyebaran Al-Qur’an juga sampai ke negara Indonesia. Namun, negara dengan dengan mayoritas kaum Muslim, penyebaran Al-Qur’an belum merata sampai Nusantara. Padahal banyak mimpi-mimpi penerus bangsa ingin menjadi seorang Hafidz Quran. Mari bersama membangun generasi Qurani hingga pelosok negeri dengan ikut penuhi kebutuhan Al Qur’an bersama Dompet Dhuafa.
Sejarah Alkitab
Alkitab atau Bible bahasa Inggris adalah sebutan yang digunakan untuk kumpulan naskah yang dalam suci dalam Yudaisme dan Kekristenan. Kata Alkitab dalam bahasa Indonesia asalnya dari bahasa Arab, juga kerap digunakan oleh para muslim untuk menyebut Al-Qur'an. Alkitab adalah sekumpulan kitab suci yang berasal dari waktu yang berbeda oleh penulis dan lokasi yang berbeda pula. Umat Yahudi dan Kristen menganggap kitab - kitab yang ada dalam Alkitab sebagai hasil dari ilham yang datang secara ilahi, juga sebagai catatan mengenai hubungan Tuhan dengan manusia. Alkitab dipandang berbeda oleh berbagai kalangan Kristen.
Dalam sejarah terbentuknya Alkitab tidak perlu diketahui asal kata Alkitab yang berasal dari kata Latin yaitu Biblia, juga berasal dari bahasa Latdain abad pertengahan, bahasa Latin Akhir dan juga dari kata Yunani Koine, bentuk tunggalnya adalah Biblion. Kata Latin dari abad pertengahan Biblia merupakan singkatan dari Biblia Sacra atau Kitab Suci yang juga berasal dari bahasa Yunani Biblia ta Hagia, sementara Biblia dari bahasa Yunani dan Latin Akhir adalah bentuk jamak netral secara gender (Bibliorum), yang secara bertahap sebagai kata benda feminin tunggal (Bibliae) dalam bahasa Latin abad pertengahan, kemudian diserap sebagai bentuk tunggal dalam bahasa daerah setempat di wilayah Eropa Barat. Sedangkan dalam bahasa Indonesia kata Alkitab berasal dari bahasa Arab 'Al-Kitab' yang berarti buku atau kitab.
Kata Biblia sendiri secara berarti 'kertas atau gulungan naskah' yang kemudian digunakan sebagai kata yang umum untuk menyebut buku atau kitab. Bentuk singkat dari Byblos atau 'papyrus mesir', yang kemungkinan berasal dari nama pelabuhan laut milik bangsa Fenisia yaitu Byblos (Gebal) dimana papirus mesir diekspor ke Yunani. Frasa dalam bahasa Yunani biblia yang secara kamus berarti 'kitab - kitab papirus kecil' adalah ungkapan yang digunakan oleh kaum Yahudi Helenistik untuk mendeskripsikan Septuaginta, kitab - kitab suci mereka.
Sejak tahun 223 M penggunaan istilah tersebut oleh kalangan Kristen telah dapat ditelusuri. Menurut seorang akademisi biblika bernama FF Bruce menyatakan bahwa Yohanes Krisostomus menjadi penulis pertama yang menggunakan frasa ta biblia yang digunakan untuk mendeskripsikan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ketahui juga mengenai sejarah buddha gautama dan sejarah Ka'bah di Arab Saudi.
Sejarah Penulisan Alkitab
Sejarah terbentuknya Alkitab dapat menelusuri pada abad ke 2 SM ketika kelompok - kelompok Yahudi diketahui telah menyebut kitab - kitab dalam Alkitab sebagai kitab - kitab suci dan rujukan kudus atau suci dalam bahasa Ibrani. Umat Kristen yang berbahasa Inggris masa kini pada umumnya menyebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan sebutan The Holy Bible (ta biblia ta agia dalam bahasa Yunani) atau The Holy Scriptures (Agia Graphe). Kalangan Kristen Protestan di Indonesia sering menggunakan sebutan Alkitab sementara Kristen Katolik Referensi Kitab Suci.
Pada abad ke 13 Stephen Langton membagi Alkitab ke dalam pasal - pasal atau bab, yang dibuat oleh seorang tukang cetak Prancis bernama Robert Estienne pada abad ke 16 membaginya ke dalam ayat - ayat. Pada saat ini Alkitab terbagi berdasarkan kitab, pasal dan ayat. Salinan Alkitab tertua yang lengkap dan masih ada sampai sekarang adalah berupa buku perkamen dari abad ke 4 awal dan disimpan di Perpustakaan Vatikan, juga dikenal dengan nama Kodeks Vatikan. Salinan tertua Tanakh dalam Bahasa Ibrani dan Aram yang bertanggal abad ke 10 M, paling tua Alkitab Latin lengkap adalah Kodeks Amiatinus yang bertarikh abad ke 8.
Sebelum ditemukannya mesin cetak, dalam sejarah terbentuknya Alkitab bagian - bagiannya disalin dengan tingkat ketelitian yang tinggi menggunakan tulisan tangan oleh para penganutnya. Buktinya dapat dilihat dari tampilan-pengetahuan yang ditemukan sekarang, yang sama dengan teks yang digunakan secara umum. Selain itu juga ada kutipan - kutipan langsung dari surat - surat zaman dulu yang mendukung kebenaran tersebut sejak zaman purba hingga sekarang. Ketika mesin cetak diciptakan pertama kali di Eropa, Alkitab Latin Vulgata merupakan buku pertama yang dicetak dengan mesin cetak tipe bergerak di Percetakan Johannes Gutenberg pada 1455. Penemuan mesin cetak ini sangat mempercepat penyebaran Alkitab di seluruh dunia secara drastis. Ketahuilah mengenai sejarah terbentuknya agama Kristen,sejarah berdirinya Gereja Katedral Jakarta, dan sejarah gereja berdirinya gereja Katolik .
Struktur Alkitab Kristen
Perjanjian Lama dalam sejarah terbentuknya Alkitab dapat dikelompokkan menjadi lima bagian yang utama yaitu Kitab Taurat, Kitab Sejarah, Kitab Hikmat, Kitab Nabi - Nabi Besar dan Kitab Nabi - Nabi Kecil. Pengelompokan dalam sejarah perjanjian baru adalah Kitab Injil (4 kitab), Kitab Sejarah (1 Kitab), Surat - Surat Rasuli (21 Kitab) dan Kitab Wahyu (1 Kitab). Sejarah Perjanjian Lamamenceritakan kisah dimana para tokoh dan nabi yang ada pada masa sebelum lahirnya Yesus Kristus, dari mulai Adam sampai Maleakhi. Perjanjian Baru memuat kitab - kitab Injil sejumlah 4 kitab berbeda yang berisi sejarah dan riwayat Yesus Kristus sejak lahir hingga kenaikannya dan surat - surat yang ditulis oleh para pengikutnya.
Masing - masing kitab dibagi atas pasal - pasal untuk memudahkan pencarian lokasi pernyataan dalam Alkitab. Kitab - kitab yang terdiri dari satu pasal saja ada lima yaitu Kitab Obaja, Surat Filemon, Surat 2 Yohanes, Surat 3 Yohanes dan Surat Yudas, sedangkan yang paling panjang memuat 150 pasal yaitu Kitab Mazmur. Masing-masing pasal kemudian dibagi menjadi sejumlah ayat, Mazmur 117 yang paling berisi dua ayat dan Mazmur 119 berisi 176 ayat paling banyak. “Alamat Alkitab” adalah cara untuk memudahkan pencarian lokasi ayat dalam Alkitab, misalnya pada Kejadian 1: 1 pajak pada Kitab Kejadian yaitu Kitab pertama dalam Alkitab, pasal pertama dan ayat pertama.
Kitab - kitab dalam sejarah terbentuknya Alkitab tersusun secara semi kronologis dan bukan dari waktu penurunan Wahyu. Penggolongan ini dilakukan karena beberapa Alkitab tidak jelas waktu yang ditentukannya dan siapa penulisnya sedangkan beberapa kitab lain adalah kumpulan tulisan yang dikelompokkan menurut gaya yang ada didalamnya. Misalnya Kitab Amsal yang ditulis oleh Raja Salomo tidak disusun setelah Kitab 1 Raja - Raja yang membahas riwayat hidupnya tetapi berkelompok dengan kitab - kitab puisi lain seperti Kitab Ayub, Mazmur, Pengkhotbah, dan Kidung Agung. Juga Kitab Nabi Yeremia yang hidup di zaman Raja Yosia tidak disimpan setelah Kitab 2 Raja - Raja yang berisi riwayat Raja Yosia tetapi disusun bersama dengan kitab nabi besar lainnya, seperti Kitab Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel dan Daniel.
Pembagian dalam sejarah terbentuknya Alkitab adalah hasil dari kanonisasi yang dilakukan oleh Bapa Gereja awal dan tidak berubah sejak abad ke 4 M, tetapi beberapa terjemahan Alkitab terkadang memiliki konvensi yang agak berbeda. Contoh dalam kitab Mazmur bahasa Indonesia, nama penggubah Mazmur dan judul lagunya dijadikan ayat yang pertama dalam satu pasal sedangkan dalam Alkitab bahasa Inggris tidak demikian. Karena itu Alkitab Bahasa Indonesia memiliki ayat lebih banyak hingga beberapa puluh Alkitab bahasa Inggris. Selain itu terdapat sub pasal yang disebut dengan perikop untuk memudahkan pembacaan dan pencarian kembali bagian tertentu dan bukan merupakan bagian isi Alkitab yang sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar