PERTEMUAN KE (6) Tugas mandiri 3 (Teori Dan Perilaku Organisasi KAMPUS ITBI)

Nama: Wilhelmus wira jernimas gulo
Jurusan: Sistem informasi
Kelas: Malam

1/ NILAI, SIKAP dan KEPUASAN KERJA


Nilai adalah keyakinan dasar dalam bentuk keadaan atau tindakan yang diyakini benar secara personal ataupun dalam lingkup sosial.

Atribut nilai dibagi menjadi dua:
1. Konten
suatu tindakan atau keadaan tertentu yang dianggap penting
Contoh : Saya percaya keuletan membawa kesuksesan dalam berbisnis
2. Intensitas
Menjelaskan seberapa penting kegiatan atau keadaan tersebut
Contoh : seberapa besar saya pegang keyakinan itu. Semakin saya kendur maka saya akan cederung malas, dan berbuah ketidaksuksesan dan sebaliknya

Sistem nilai adalah urutan tingkat nilai yang dimiliki seseorang dilihat dari intensitasnya. Jika konten dan intensitas berbeda, maka sistem nilai hancur. Nilai bersifat tetap dan bertahan lama. Nilai menjadi dasar persepsi dalam memahami sikap dan motivasi seseorang serta mempengaruhi perilaku kita
SIKAP
Sikap adalah pernyataan/penilaian evaluatif menyangkut benda, orang atau kejadian.
Sikap bisa bertolakbelakang dengan nilai, karena lebih tidak stabil dan mudah dipengaruhi dibandingkan dengan nilai.

Beberapa komponen sikap:
a. Kognitif (bagian dari sikap yang berupa pendapat atau kepercayaan) 
b. Afektif (bagian dari sikap yang berupa perasaan atau emosional)
c. Perilaku (kemauan untuk berperilaku tertentu terhadap seseorang atau sesuatu)

Jenis-jenis sikap:
a) Job Satisfaction (sikap yang menentukan kepuasan seseorang terhadap pekerjaannya)
b) Job Involvement (sikap yang menggambarkan sampai sejauh mana partisipasi aktif karyawan terhadap pekerjaannya)
c) Organization Commitment (sikap yang menunjukkan sampai mana seseorang melibatkan diri dalam organisasi beserta dengan tujuan-tujuannya dan ingin menjaga keanggotaannya dalam organisasi)
KEPUASAN KERJA
Bagaimana hubungan kepuasan kerja dengan produktivitas, kemangkiran dan keluar masuknya karyawan dalam perusahaan.

Mengukur Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja adalah sikap umum seseorang terhadap pekerjaannya. Pekerjaan menuntut interaksi dengan orang lain, mengikuti aturan dan kebijaksanaan organisasi, standar kerja, kondisi kerja yang kurang ideal dan lainnya. Jadi Assesment (penilaian) merupakan hal yang rumit.

Ada 2 metode pendekatan untuk mengukur kepuasan kerja, yaitu :
1. Angka – nilai global tunggal (single global rating)
Dalam metode angka – nilai global tunggal tidak lebih dari meminta individu –individu untuk menjawab satu pertanyaan.
Contoh:  Bila kita memberikan sebuah pertanyaan “seberapakah puaskah anda dengan pekerjaan anda?” kemudian responden menjawabnya dengan melingkari suatu bilangan antara 1 sampai 5 yang berapa dan dengan jawaban dari “Sangat Dipuaskan” sampai “Sampai tidak puas
Faktor – faktor yang berfungsi mendorong kepuasaan kerja adalah :
1. Kerja yang secara mental menantang
Faktor ini memberi kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan beragam tugas, kebebasan, dan umpan balik mengenai betapa baik mereka bekerja

2. Ganjaran yang pantas
Faktor ini selalu diinginkan oleh karyawan dalam sistem upah dan kebijakan promosi yang dinilai adil, tidak meragukan dan segaris dengan pengharapan mereka

3. Kondisi kerja yang mendukung :
Fakor ini sangat mengdukung bagi karyawan dalam melakukan pekerjaannya karena dengan lingkungan yang nyaman dapat menciptakan hasil kerja yang memuaskan

4. Rekan sekerja yang mendukung
Faktor ini sangat mendukung dalam menghasilkan kerja yang memuaskan karena dengan adanya interaksi sosial didalam suatu pekerjaan maka dapat mendukung kepuasan kerja dari karyawan

5. Jangan lupakan kesesuaian antara kepribadian – pekerjaan
Karyawan yang memiliki kepribadian yang sama dengan pekerjaan yang dipilih seharusnya mendapatkan bahwa mereka mempunyai bakat dan kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka, jadi kemungkinan berhasilnya pekerjaan tersebut sangat besar

6. Ada dalam Gen
Faktor ini penting karena Gen dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja dari seoang karyawan. Disposisi seorang terhadap hidup baik positif maupun negatif ditentukan oleh bentukan genetikya


Ada 3 Efek kepuasan kerja pada kinerja karyawan :
1. Kepuasan dan Produktivitas
Dengan tingkat kepuasan kerja yang terjamin maka tingkat produktivitas dari seorang karyawan semakin bagus.

2. Kepuasan dan Kemangkiran
Kepuasan kerja dari suatu karyawan ditentukan oleh tingkat kemangkiran.
Contoh : suatu perusahaan harus memberikan tunjangan cuti sakit kepada karyawan yang sakit supaya karyawan tersebut seperti diperhatikan oleh perusahaan tersebut

3. Kepuasan dan Tingkat keluar – masuknya karyawan
Kepuasan juga dihubungkan negatif dengan keluarnya karyawan. Jadi kepuasan kerja sangat penting dalam mempengaruhi karyawan yang buruk untuk tinggal daripada yang kinerjanya bagus.

2/ HUBUNGAN KEPUASAN KERJA DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA


Hubungan antara kepuasan kerja dengan produktivitas kerja masih menjadi kontroversi dan menarik untuk dikaji lebih lanjut. Riset tentang kepuasan kerja sebaiknya diarahkan untuk menganalisis bagaimana dampak kepuasan kerja terhadap perilaku karyawan di tempat kerja khususnya produktivitas kerja mereka. Kepuasan kerja adalah sikap positif atau negatif seorang karyawan terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja merupakan hasil interaksi karyawan dengan lingkungan/tempat kerjanya, sehingga tingkat kepuasan kerja seseorang berbeda-beda. Kepuasan kerja diharapkan mengarah pada pencapaian produktivitas kerja yang tinggi. Salah satu pandangan produktivitas menyatakan bahwa produktivitas kerja adalah perbandingan antara hasil kerja yang dicapai dengan target yang sudah ditentukan. Sementara itu terdapat beberapa pandangan mengenai hubungan antara kepuasan kerja dengan produktivitas yaitu kepuasan kerja menyebabkan produktivitas, kepuasan kerja disebabkan oleh produktivitas, dan tidak ada hubungan diantara keduanya.

3/ Mengelola Emosi demi Peningkatan Kinerja Individu dan Organisasi

Mengelola emosi dalam rangka meningkatkan kinerja individu dan organisasi mutlak diperlukan dalam suatu organisasi baik itu organisasi. Karena itu amatlah penting bagi kita untuk memahami   “apa itu emosi”, apa itu kinerja, bagaimana  mengelola emosi dan  apa manfaatnya bagi relasi dalam hubungan dengan peningkatan kinerja  suatu organisasi.

 

Apa itu emosi?

Anwar Prabu Mangkunegara dalam bukunya Evaluasi Kinerja SDM merumuskan emosi sebagai keadaan yang berlangsung lebih dalam yang menggerakkan kita atau memperingatkan kita apakah kita sadar tentang itu atau tidak. Pada saat ketegangan emosi seseorang naik maka penggunaan energi juga ikut meningkat dan peredaran darah menjadi lebih cepat. Dalam situasi seperti ini, sbaiknya kita mengarahkan kembali energi emosi yang timbul untuk mengerjakan kegiatan yang tidak ada hubungan dengan penyebab timbulnya emosi. Kita mengalihkan pikiran pada kegiatan lainnya yang mampu “melupakan” agar emosi menjadi normal, misalnya menarik nafas dalam-dalam, mengingat kasih setia Tuhan yang memelihara, melindungi, menaungi, menyertai serta  meditasi atau berdoa. Dengan melakukan hal-hal itu diharapkan kita bisa mampu mengendalikan emosi kita.

 

Kinerja individu dan organisasi

  1. Kinerja individu

Dalam bukunya Manajemen dan evaluasi kinerja ( 2005 )  Prof. Dr. Payaman J.Simanjuntak  berpendapat bahwa kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu. Kinerja individu adalah tingkat capaian hasil kerja individu atas pelaksanaan tugas tertentu dalam organisasi. Kinerja setiap orang dipengaruhi oleh banyak faktor, tiga faktor dintaranya adalah kompetensi individu, dukungan organisasi dan dukungan manajemen.

Kompetensi individu adalah kemampuan dan ketrampilan melakukan kerja. Kompetensi individu dipengaruhi oleh beberapa faktor, dua diantaranya yaitu: kemampuan dan ketrampilan kerja serta motivasi dan etos kerja. Kemampuan dan ketrampilan kerja setiap orang dipengaruhi oleh kebugaran fisik dan kesehatan jiwa individu, pendidikan, akumulasi pelatihan dan pengalaman kerjanya. Kebugaran fisik membuat orang mampu dan tahan bekerja keras dan lama. Karyawan yang kekurangan gizi akan cepat lemah dan lelah serta tidak mampu melakukan pekerjaan berat. Sedangkan gangguan kejiwaan akibat rasa frustrasi dan masalah-masalah sosial ekonomi membuat  orang tidak konsisten dan tidak konsentrasi melakukan pekerjaan.





Komentar