1.MEMBUAT PERANAN DAN TANGGUNG JAWAB DARI MASING MASING ANGGOTA KELUARGA
Dalam sebuah sarasehan keluarga yang diselenggarakan oleh Komisi Keluarga KWI, ditekankakan tentang peran keluarga sebagai pendidik nilai-nilai dasar kemanusiaan. Sarasehan itu bertopik ”Membangun Keluarga Katolik di Zaman Modern” menekankan pentingnya suasana damai dalam keluarga yang dikuatkan dengan iman, cinta dan harapan yang kokoh. Hal tersebut disimpulkan Pater Yeremias Bala Pito, dalam sebuah puisi sebagai berikut :
Empat Lilin
Ada empat lilin yang menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh
Suasana begitu sunyi
Sehingga terdengarlah percakapan mereka
Lilin pertama berkata “ Aku adalah Damai amun manusia tak mampu menjagaku Hati mereka membeku dan membatu dalam kebencian Maka lebih baik aku mematikan diriku sendiri. Demikianlah sedikit demi sedikit sang Lilin Damai padam.
Lilin Kedua berkata :
” Aku adalah Iman" sayang, aku tak berguna lagi.
Manusia saling mencurigai dan tertutup
Untuk itulah tak ada gunanya lagi
Aku tetap menyala.
(Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya).
(Dengan sedih Lilin ketiga bicara) :
“ Aku adalah Cinta “
Tapi aku tak mampu lagi untuk tetap menyala
Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna
Mereka saling membenci, bahkan membenci orang
Yang mencintainya, membenci keluarganya
(Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga)
(Dengan mata bersinar, Sang anak mengambil lilin lainnya).
Dia berkata :
Apa yang tidak pernah boleh mati, hanyalah HARAPAN
yang ada dalam hati kita….. Penanaman karakter pada anak sejak dini berarti ikut
mempersiapkan generasi bangsa yang berkarakter, mereka adalah
calon generasi bangsa yang diharapkan mampu memimpin bangsa dan
menjadikan negara yang berperadaban, menjunjung tinggi nilai-nilai
luhur bangsa dengan akhlak dan budi pekerti yang baik serta menjadi
generasi yang berilmu pengetahuan tinggi dan menghiasi dirinya
dengan iman dan taqwa. Oleh karena itu pembelajaran pendidikan
agama di sekolah sebagai salah satu upaya pembentukan
karakter siswa sangatlah penting. Pembentukan Karakter anak akan
lebih baik jika muncul dari kesadaran keberagamaan bukan hanya
karena sekedar berdasarkan prilaku yang membudaya dalam masyarakat.
Indikator keberhasilan pendidikan Karakter adalah jika seseorang telah mengetahui sesuatu yang baik (knowing the good)
(bersifat kognitif), kemudian mencintai yang baik (loving the good)
(bersifat afektif), dan selanjutnya melakukan yang baik (acting the
good) (bersifat psikomotorik) .
Pembiasaan itu dapat
dilakukan salah satunya dari kebiasaan prilaku keberagamaan anak
dengan dukungan lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga.
Sedangkan upaya yang dapat dilakukan sekolah dalam memak-
simalkan pembelajaran Agama di sekolah di antaranya:
1) dibutuhkan
guru yang profesional dalam arti mempuni dalam keilmuannya,
berakhlak dan mampu menjadi teladan bagi siswanya,
2) pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi ditambah dengan
kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang dilaksanakan
dengan serius sebagai bagian pembelajaran,
3) mewajibkan siswa
melaksanakan ibadah-ibadah tertentu di sekolah dengan bimbingan
guru (misalnya rutin melaksanakan salat zduhur berjamaah),
4) menyediakan tempat ibadah yang layak bagi kegiatan keagamaan,
5) membiasakan akhlak yang baik di lingkungan sekolah dan dilakukan
oleh seluruh komunitas sekolah (misal program salam, sapa, dan
senyum),
6) hendaknya semua guru dapat mengimplementasikan
pendidikan agama dalam keseluruhan materi yang diajarkan sebagai
wujud pendidikan karakter secara menyeluruh. Jika beberapa hal
tersebut dapat terlaksana niscaya tujuan pendidikan nasional dalam
menciptakan anak didik yang beriman dan bertakwa kepada tuhan
yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dapat tercapai
Komentar
Posting Komentar