TUGAS MANDIRI 5 (Ilmu sosial dan budaya) KAMPUS MILENIAL

Nama.      : Wilhelmus Wira Jernimas Gulo
Kelas.       : Malam
Jurusan.    : Sistem Informasi

Soal dan jawaban

1.Coba saudara jelaskan faktor-faktor yang mendorong lahirnya Budaya ?

a. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia.

b. Kebudayaan itu ada sebelum generasi lahir dan kebudayaan itu tidak dapat hilang setelah generasi tidak ada.

c. Kebudayan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya.

d. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang memberikan kewajiban kewajiban.

2.Coba perhatikan di sekelilingmu dan deskripsikan sejarah kebudayaan yang ada di daerahmu!

Jawab:

1. Asal Muasal Pesta Tapai di Kabupaten Batu Bara 



 Pesta tapai ini berada di Desa Mesjid Lama dan Desa Dahari Silebar Kecamatan Talawi. Banyak warung yang menjual bermacam-macam tapai yakni tapai lemang, tapai ubi, dan kue teradisional Melayu Batu Bara. Kue tradisional Batu Bara seperti karas-karas dan rengginang banyak dijual kepada para pengunjung. Bahan untuk membuat tapai berbeda-beda. Tapai lemang dibuat dari pulut ketan serta jajanan kue tradisional lainnya. Sedangkan tapai ubi terbuat dari ubi kayu. Pesta tapai ini sudah menjadi kebiasaan turun temurun dan diadakan setiap tahun menjelang bulan Ramadan. Tahukah Anda kapan pertama kali pesta tapai ini diadakan? Inilah asal usul pesta tapai.
Zaman dahulu, raja yang berkuasa di daerah pesisir Batu Bara ini adalah Datuk Mudo Jalil Lelo Sumaso Tuo. Datuk Mudo Jalil Lelo Sumaso Tuo inilah yang memerintahkan untuk membangun tempat memotong sapi dan kerbau untuk menyambut datangnya bulan Ramadan. Banyak orang datang dari berbagai daerah untuk memotong atau membeli daging. Mereka berasal dari dari Batu Bara, Labuhan Ruku, Tanjung Tiram, Titi Putih, dan Titi merah. Ramai sekali orang datang ke daerah ini. Ratusan ekor kerbau dan sapi dipotong di sini menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Karena ramainya orang yang datang, Raja Datuk Mudo Jalil Lelo Sumaso Tuo juga memerintahkan untuk membangun kedai-kedai kecil untuk keperluan pedagang dan pembeli daging. Kedai-kedai tersebut menjual panganan seperti lemang, tapai, karas-karas, cendol, dan makanan tradisional lainnya. Siapa yang ingin membeli lemang dan tapai atau yang lainnya, tinggal ambil di baskom lalu bayar kepada penjualnya. Selain sebagai tempat berjualan lemang tapai, kedaikedai itu juga digunakan oleh pendatang dari dearah lain untuk tempat istirahat melepas lelah sebelum kembali ke daerah asal mereka. Sejak saat itu sampai sekarang, sudah jadi tradisi di daerah ini, setiap menjelang datangnya bulan Ramadan ramailah orang memotong kerbau dan lembu serta berjualan lemang tapai.

2.Tarian Adat di Kabupaten Batu Bara 


Suku Melayu memiliki beragam jenis kesenian, begitu juga di daerah Batu Bara, dengan salah satu kesenian diantaranya adalah tari Zapin. Tari Zapin merupakan salah satu dari beberapa jenis tarian Melayu yang masih eksis sampai sekarang. Tarian ini dibawa oleh keturunan Arab yang berasal dari Yaman. Zapin, dalam bahasa Arab adalah “Zaffn” yang berarti langkah kaki. Zapin merupakan seni tari hiburan yang mengutamakan gerak kaki dalam menarikannya diiringi dengan alat musik utama yang terdiri dari gambus, marwas, dan gendang indukMenurut hasil wawancara dengan narasumber (Musthofal Ahyar), sejarah tari Zapin pada mulanya merupakan tari hiburan di kalangan raja-raja di istana Lima Laras Batu Bara setelah dibawa dari Yaman oleh para pedagang-pedagang di awal abad ke-16. Selain untuk menghibur di kalangan raja-raja di istana Lima Laras Batu Bara juga , digunakan sebagai media dakwah Islamiyah. Dikatakan sebagai dakwah karena iringan syair yang didendangkan dalam tari zapin berisi tentang nasihat-nasihat yang sarat dengan pesan agama.

3.Makanan Khas di Kabupaten Batu Bara 


Bubur pedas merupakan idaman menu buka puasa bagi masyarakat setempat. Kudapan ini merupakan olahan dari berbagai rempah, dipercaya mampu menghangatkan dan mengembalikan kondisi tubuh setelah berpuasa seharian. Jika ramadhan datang, di sepanjang jalan akan ditemui warung yang menjual bubur pedas tersebut. Dipercaya rasanya akan lebih nikmat.

Bahan untuk membuat bubur pedas sangat sederhana dan bisa ditemukan dipasaran seperti beras, rempah, dan sayuran. Cara membuatnya adalah beras di tumbuk kemudian di oseng, setelah itu semua bumbu dan rempah-rempah dicampurkan, terakhir sayuran seperti pakis, kangkung, dan dan kesum dicampurkan. Untuk menambah kenikmatan bubur bisa dicampurkan dengan ikan teri dan kacang tanah. Uniknya, bubur ini walaupun namanya bubur pedas tidak akan ada rasa pedas sedikitpun. Rasanya justru cenderung gurih dan segar. Jika ingin pedas bisa ditambahkan sambal sendiri. Harga per porsi bubur pedas kurang lebih Rp. 7.000.

4.Istana Niat Lima Laras di Kabupaten Batu Bara 
Istana Niat Lima Laras adalah salah satu Istana kerajaan Melayu pesisir yang berada di Kabupaten Batu Bara, provinsi Sumatra Utara. Istana Niat Lima Laras terletak di kawasan pemukiman/perkampungan nelayan yang dibangun berawal dari nazar atau niat seorang Datuk Matyoeda Sri Diraja (Raja Kerajaan Lima Laras XII) yang dikenal dengan nama Datuk Muhammad Yuda, putera tertua dari seorang Raja yaitu Datuk Haji Djafar gelar Raja Sri Indra (Raja Kerajaan Lima Laras XI).

Berawal dari larangan berdagang yang diterapkan oleh Pemerintahan Hindia Belanda terhadap para raja yang ditentang oleh Datuk Matyoeda. Datuk Matyoeda sendiri adalah Raja Kerajaan Lima Laras XII, yang bertahta pada tahun 1883 - 1919. Larangan Berdagang tanpa alasan yang jelas oleh pemerintah Hindia Belanda disinyalir akibat dari imbas monopoli perdagangan hasil bumi. Bila ada yang melanggar kebijakan tersebut maka armada beserta isinya akan ditarik paksa oleh pemerintah Hindia Belanda. Datuk Matyoeda sering berdagang hasil bumi (Kopra, Damar, dan Rotan) ke Malaka, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Datuk Matyoeda sering berhadapan dengan pemerintah Hindia Belanda akibat dari kebijakan tersebut, sehingga timbul niat/nazar Datuk Matyoeda untuk membangun sebuah Istana apabila dapat berhasil dengan selamat. Dan ternyata Datuk Matyoeda dapat berlabuh di pelabuhan Tanjung Tiram dan juga memiliki untung besar dari berdagang hasil bumi.

Kemudian istana dapat dibangun dengan biaya sebesar 150.000 Gulden, dengan mendatangkan 80 orang tenaga ahli dari negeri China dan Pulau Penang Malaysia, dan sejumlah tukang yang berasal dari sekitar pembangunan istana. Datuk Matyoeda bersama keluarga beserta unsur pemerintahannya mendiami lokasi istana sejak tahun 1883 (awal perencanaan pembangunan istana) hingga berdirinya istana pada tahun 1912. Waktu wafatnya Datuk Matyoeda pada 7 Juni 1919, sekaligus penanda berakhirnya kejayaan Kerajaan Lima Laras. Aktivitas di istana berakhir pada tahun 1923, yaitu akhir dari pemerintahan Datuk Muda Abdul Roni (Raja Kerajaan Lima Laras XIII). Pada tahun 1942 tentara Jepang masuk ke Asahan dan menguasai istana. Pada masa Agresi Militer II, Istana Niat Lima Laras kembali ke Republik Indonesia dan ditempati oleh Angkatan Laut RI di bawah pimpinan Mayor Dahrif Nasution.


Komentar